Minggu, 29 November 2020

HEMATOLOGI 1

 

HEMATOLOGI I “Pembekuan Darah dan Antikoagulansia”

Hematologi adalah bidang studi kesehatan yang mempelajari tentang darah dan gangguan darah yang terjadi. Beberapa penyakit yang diatasi oleh bidang kedokteran hematologi termasuk anemia, gangguan pembekuan darah, penyakit infeksi, hemofilia dan leukemia. Dalam hematologi, diketahui gangguan darah biasanya terjadi karena adanya penyakit, efek samping obat-obatan, dan kekurangan nutrisi tertentu dalam asupan makanan sehari-hari. Perawatan yang diperlukan untuk penyakit darah bervariasi, tergantung pada kondisi darah dan tingkat keparahannya, begitu pula dengan perjalanan penyakitnya yang bias berbeda-beda.

System hematologi tersusun atas darah dan tempat darah diproduksi, termasuk sumsum tulang dan nodus limpa. Darah terdiri atas 2 komponen utama, yaitu sebagai berikut:

1.      Plasma darah

Bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit, dan protein darah.

2.      Butir-butir darah, yang terdiri atas komponen-komponen berikut ini

·         Eritrosit (sel darah merah)

·         Leukosit (sel darah putih)

·         Trombosit (butir pembekuan darah)

ERITROSIT (Sel Darah Merah)

Ø  Struktur eritrosit

Sel darah merah merupakan cairan bikonkaf dengan diameter sekitar 7 mikron. Bikonkavitas memungkinkan gerakan oksigen masuk dan keluar sel secara cepat dengan jarak yang pendek antara membrane dan inti sel. Warnanya kuning kemerah-merahan, karena didalamnya mengandung suatu zat yang disebut hemoglobin.

Sel darah merah tidak memiliki inti sel, mitokondria dan ribosom, serta tidak dapat bergerak. Sel ini tidak dapat melakukan mitosis, fosforilasi oksidatif sel atau pembentukan protein.

Ø  Lama hidup

Eritrosit hidup selama 74-154 hari. Pada usia ini system enzim mereka gagal, membrane sel berhenti berfungsi dengan adekuat dan sel ini dihancurkan oleh sel system retikulo endothelial.

Ø  Jumlah eritrosit

Jumlah normal pada orang dewasa kira-kira 11,5-15 gram dalam 100 cc darah. Normal Hb wanita 11,5 mg% dan Hb laki-laki 13,0 mg%

Ø  Sifat-sifat eritrosit

v  Normositik : sel yang ukurannya normal

v  Normokromik : sel dengan jumlah hemoglobin yang normal

v  Mikrositik : sel yang ukurannya terlalu kecil

v  Makrositik : sel yang ukurannya terlalu besar

v  Hipokromik : sel yang jumlah hemoglobinnya terlalu sedikit

v  Hiperkromik : sel yang jumlah hemoglobinnya terlalu banyak

Ø  Antigen sel darah merah

Sel darah merah memiliki bermacam-macam antigen spesifik yang terdapat di membrane selnya dan tidak ditemukan di sel lain. Antigen-antigen itu adalah A, B, O dan Rh.

Ø  Penghancuran sel darah merah

Proses penghancuran eritrosit terjadi karena proses penuaan dan proses patologis. Hemolisis yang terjadi pada eritrosir akan mengakibatkan terurainya komponen-komponen hemoglobin menjadi dua komponen sebagai berikut.

v  Komponen protein, yaitu globin yang akan dikembalikan ke pool protein dan dapat digunakan kembali

v  Komponen heme akan dipecah menjadi dua, yaitu :

-          Besi yang akan dikembalikan ke pool besi dan digunakan ulang

-          Bilirubin yang akan diekskresikan melalui hati dan empedu

LEUKOSIT (Sel Darah Putih)

Ø  Struktur leukosit

Bentuknya dapat berubah-ubah dan dapat bergerak dengan perantaraan kaki palsu (pseudopodia), mempunyai bermacam-macam inti sel, sehingga dapat dibedakan menurut inti selnya serta warnanya bening. Sel darah putih dibentuk di sumsum tulang dari sel-sel bakal. Jenis-jenis dari golongan sel ini adalah golongan yang tidak bergranula, yaitu limfosit T dan B, monosit dan makrofag, serta golongan yang bergranula yaitu eosinofil, basofil dan neutrofil.

Ø  Fungsi sel darah putih

v  Sebagai serdadu tubuh

v  Sebagai pengangkut

Ø  Jenis-jenis sel darah putih

v  Agranulosit

v  Granulosit

v  Limfosit T

v  Limfosit B

Ø  Jumlah sel darah putih

Pada orang dewasa, jumlah sel darah putih total 4,0-11,0x109/l yang terbagi sebagai berikut

v  Neutrofil 2,5-7,5x109

v  Eosinofil 0,04-0,44x109

v  Basofil 0-0,10x109

v  Limfosit 1,5-3,5x109

v  Monosit 0,2-0,8x109

TROMBOSIT (Keping Darah)

Ø  Struktur trombosit

Trombosit adalah bagian dari beberapa sel-sel besar dalam sumsum tulang yang berbentuk cakram bulat, oval, bikonveks, tidak berinti dan hidup sekitar 10 hari.

Ø  Jumlah trombosit

Jumlah trombosit antara 150 dan 400x109/l (150.000-400.000/milliliter), sekitar 30-40% terknsentrasi didalam limfa dan sisanya bersikulasi dalam darah

Ø  Fungsi trombosit

Trombosit berperan penting dalam pembentukan bekuan darah.

PEMBEKUAN DARAH

Pembekuan adalah esensial, bagian perlindungan hemostasis yang mencegah kehilangan darah bila suatu pembuluh rusak. Hemostasis mengacu pada penghentian pendarahan. Pembekuan adalah kemampuan darah untuk berubah dari cair menjadi masa semi padat. Pembekuan ini melibatkan perubahan fibrinogen, makrofag yang dapat larut yang terdiri dari rantai-rantai polipeptida, menjadi monomer fibrin dengan kerja thrombin enzim proteolitik.

Homeostatis, berhentinya pendarahan atau berlangsungnya sirkulasi darah, sering dibagi dalam empat kejadian utama:

1.      Vasokonstriksi

2.      Pembentukan plak trombosit hemostatik

3.      Koagulasi darah

4.      Pembentukan berkuan

MEKANISME PEMBEKUAN DARAH

Setelah hemostatis mulai, aktivasi berurutan dari factor pembekuan darah terjadi. Interaksi dari factor-faktor ini menyebabkan pembentukan bekuan padat, yang menjamin pencegahan kehilangan darah dalam kasus robekan vascular. Dapat terjadi pembekuan dalam system vascular atau pada endothelium jantung yang rusak sering menyebabkan masalah sirkulasi mayor.

Tiga reaksi dasar merupakan cara berurutan untuk pembekuan darah

1.      Aktivator protrombin dibentuk oleh cara intrinsik atau ekstrinsik dalam berespons pada keruskan jaringan atau endotel

2.      Activator protrombin mengkatalis perubahan protrombin menjadi thrombin

3.      Thrombin mengkatalis perubahan fibrinogen yang dapat larut menjadi benang-benang polimer fibrin padat. Benang-benang fibrin ini membentuk jarring-jaring dimana plasma, sel-sel darah dan trombosit menempel untuk membuat bekuan

ANTIKOAGULAN

Obat antikoagulan digunakan untuk mencegah pembekuan darah dengan jalam menghambat pembentukan atau menghambat fungsi beberapa factor pembekuan darah. Antikoagulan diperlukan untuk menghambat pembentukan fibrin, mencegah terbentuknya arterial thrombosis sehingga tidak terjadi perluasan thrombus dan emboli, maupun untuk mencegah bekunya darah diluar tubuh pada pemeriksaan laboratorium atau transfuse.

Antikoagulan terbagi menjadi 4 golongan berdasarkan fungsinya dalam menghambat fungsi protein yang berperan dalam proses penggumpalan darah. Keempat golongan tersebut yaitu :

1.         Warfarin

jenis antikoagulan coumarin yang bekerja dengan menghambat kerja vitamin K   didalam darah.

2.         Penghambat faktor Xa

jenis obat antikoagulan yang bekerja dengan menghambat kerja       faktor Xa.

3.      Penghambat Thrombin

golongan obat antikoagulan yang berfungsi mencegah aktivasi           thrombin.

4.         Heparin

jenis obat antikoagulan yang berperan dalam menghambat thrombin dan faktor Xa. 

FARMAKODINAMIK WARFARIN

Efek antikoagulan dari warfarin berasal dari inhibisi interkonversi siklik vitamin K di liver. Bentuk vitamin K yang tereduksi dibutuhkan untuk karboksilasi faktor II, VII, IX, dan X sehingga faktor-faktor koagulasi ini menjadi bentuk aktif. Maka, tanpa vitamin K tereduksi, faktor-faktor di atas tidak dapat berfungsi sebagai faktor koagulan. Warfarin mengintervensi konversi vitamin K menjadi bentuk yang tereduksi, sehingga warfarin secara tidak langsung mengurangi jumlah faktor-faktor koagulasi tersebut. Dosis terapeutik warfarin mengurangi jumlah faktor koagulan bentuk aktif tergantung vitamin K yang diproduksi oleh liver mencapai hingga 30%-50%.  

FARMAKOKINETIK WARFARIN

-          Absorpsi

Warfarin diabsorpsi melalui rute oral dan membutuhkan waktu 4 jam untuk mencapai konsentrasi puncak. Warfarin di absorpsi secara cepat dan komplit. Efek antikoagulasi terjadi dalam 24 jam hingga 72 jam setelah administrasi, waktu puncak efek terapeutik terlihat dalam 5-7 hari setelah terapi inisiasi. Namun, hasil INR sudah ditemukan meningkat dalam 36-72 jam setelah terapi inisiasi. Hal ini terjadi pada terapi inisiasi serta perubahan dosis warfarin karena masih bervariasinya waktu paruh faktor koagulasi yang beredar dalam sirkulasi darah. Durasi satu dosis warfarin dapat bertahan hingga 2-5 hari.

-          Distribusi

Volume distribusi warfarin adalah 0,14 liter/kg. Warfarin tidak didistribusikan ke dalam air susu. Protein binding 99%.

-          Metabolisme

Warfarin terdiri dari isomer S dan R yang dimetabolisme di liver oleh enzim mikrosomal hepatik (sitokrom P-450) menjadi metabolit inaktif terhidroksilasi dan metabolit tereduksi. Isomer S memiliki potensi efek yang lebih tinggi dari isomer R. Isomer S dimetabolisme oleh enzim CYP2C9 dan isomer R dimetabolisme oleh CYP1A2. Metabolit ini diekskresikan melalui urine, dan dalam jumlah sedikit diekskresikan melalui cairan empedu.

-          Eliminasi

Ekskresi warfarin paling utama lewat urine oleh filtrasi glomerular dalam bentuk metabolit (92%) dan hanya sedikit yang dieksresikan dalam bentuk tidak diubah. Waktu paruh warfarin efektif berkisar 20-60 jam, dengan rata-rata 40 jam.

DAFTAR PUSTAKA

Abiding,Z.Z dan F.Mardiyantoro.2020.Diagnosis dan Tata Laksana Perdarahan Rongga Mulut,UB Press,Malang.

Handayani,W dan H.A.Sulistyo.2008.Buku Ajar Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Hematologi,Selemba Medika,Jakarta.

Tambayong,J.2002.Patofisiologi Untuk Keperawatan,EGC,Jakarta.

PERMASALAHAN

1.      Apakah warfarin hanya dapat  menghambat kerja dari vitamin K   didalam darah?

2.      Apakah ada bantuan lain selain bantuan antikoagulasi untuk menyembuhkan pembekuan darah?misalnya sembuh secara alami. Jelaskan!!

3.      Apa resiko yang akan terjadi jika penggunaan warfarin bersamaan dengan obat golongan kortikosteroid ?


9 komentar:

  1. Halo Sellya, saya akan menjawab pertanyaan no.1
    perlu diketahui dahulu sebelumnya bahwa fungsi utama semua jenis vitamin K baik itu vitamin K1 (Phylloquinone) dan K2 (Menaquinone) adalah mengaktifkan protein yang berperan dalam pembekuan darah. sehingga kadar vitamin K yang meningkat dalam tubuh akan menghambat kerja dari obat warfarin untuk mengencerkan darah. Dari beberapa sumber referensi yang telah saya baca, mekanisme kerja Warfarin memang ditujukan hanya untuk menghambat Vitamin K saja di dalam darah sehingga diperlukan waktu yang lebih lama bagi darah untuk membeku.

    BalasHapus
  2. Artikelnya sangat menarik, dan tidak membosankan

    BalasHapus
  3. Terimakasih banyak atas ilmunya, artikelnya sangat bermanfaat

    BalasHapus
  4. Menarik sekali,, jadi makin semangat belajarnya hihi

    BalasHapus
  5. Gatau lagi. Keren parah. Tengkyu sist

    BalasHapus

RHEUMATOID ARTHRITIS

  RHEUMATOID ARTHRITIS Rheumatoid Arthritis adalah penyakit kronis multisystem akibat gangguan inflamasi kronis yang memengaruhi persend...